Aceh Utara – Kebijakan PT Pema Global Energi (PGE) dalam menyalurkan bantuan hewan ternak menyambut tradisi Meugang tahun ini memicu polemik panas. Keputusan perusahaan yang dinilai mengabaikan masyarakat di wilayah Ring-I (zona operasional utama) memancing reaksi keras dari tokoh pemuda setempat.
Ketua PAC Pemuda Pancasila (PP) Kecamatan Matangkuli, Zulfadhli yang akrab disapa Bung Adel secara terbuka melayangkan protes terhadap manajemen PT PGE. Menurutnya, langkah perusahaan tahun ini merupakan kemunduran besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Masyarakat Ring-I Terabaikan di Tengah Krisis
Bung Adel menyayangkan hilangnya nama desa-desa di Kecamatan Syamtalira Aron, Nibong, Tanah Luas, dan Matangkuli dari daftar penerima bantuan daging meugang. Padahal, wilayah tersebut adalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan operasional perusahaan.
“Kondisi ekonomi masyarakat Ring-I saat ini sedang porak-poranda akibat dampak banjir, pertanian dan perkebunan warga gagal panen. Seharusnya perusahaan lebih peduli, bukan malah memangkas bantuan,” tegas Bung Adel, Selasa (17/02/2026).
Ia menambahkan bahwa dengan kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang, jangkauan bantuan seharusnya diperluas hingga ke Ring-II, bukan justru mempersempit penerima di wilayah inti.
Soroti Dana CSR dan Status Desa Binaan
Kritik tajam juga diarahkan pada pengelolaan Dana Corporate Social Responsibility (CSR). Bung Adel membandingkan PT PGE dengan perusahaan di daerah lain yang aktif membangun “Desa Binaan” sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
Minim Kepedulian: Perusahaan dinilai menutup mata terhadap penderitaan warga sekitar.
Kejanggalan Kebijakan: Tidak adanya status desa binaan di wilayah operasional PT PGE dianggap sebagai sebuah keanehan dalam tata kelola perusahaan besar.
Pemanfaatan CSR: Bung Adel mendesak agar dana CSR dialokasikan secara transparan untuk menyentuh kebutuhan dasar warga yang terdampak langsung oleh aktivitas perusahaan.
Ancaman Penolakan Kehadiran Perusahaan
Bung Adel menegaskan bahwa keberadaan perusahaan seharusnya membawa kesejahteraan bagi lingkungan sekitar, bukan hanya sekadar mengambil keuntungan dari sumber daya alam Aceh Utara.
“Apabila kehadiran PGE tidak menguntungkan masyarakat, lebih baik tutup saja,” pungkasnya dengan nada kecewa.






