Ironi di Balik Slogan “Aceh Utara Bangkit”: Saat Damkar “Lumpuh” dan Lhokseumawe Jadi Juru Selamat di Samudera

  • Whatsapp
Ironi di Balik Slogan “Aceh Utara Bangkit”: Saat Damkar “Lumpuh” dan Lhokseumawe Jadi Juru Selamat di Samudera
Foto: Screenshot Video Amatir Warga Saat Kebakaran di Pusong

Aceh Utara – Slogan “Aceh Utara Bangkit” mendadak terasa getir bagi warga Gampong Pusong, Kecamatan Samudera. Pada Kamis dini hari (5/3/2026) pukul 03.13 WIB, saat warga terlelap, api berkobar hebat melahap satu unit rumah.

Namun, alih-alih melihat armada merah milik kabupaten sendiri datang menyelamatkan, warga justru harus menyaksikan kenyataan pahit: Garda terdepan mereka sedang “opname” di bengkel.

Jeritan Warga dan Mesin yang Mogok

Kejadian ini memicu sorotan tajam. Pasalnya, saat nyawa dan harta benda dipertaruhkan, fasilitas publik yang seharusnya menjadi garda terdepan justru sedang “terbaring” di bengkel.

Bantuan baru tiba setelah armada dari Kota Lhokseumawe meluncur menembus batas wilayah untuk memadamkan api.

” Damkar kabupaten tidak bisa turun karena mobilnya rusak. Yang datang hanya mobil pemadam dari Kota Lhokseumawe,” keluh seorang warga di lokasi dengan nada kecewa.

Alasan Klasik: Rusak Pasca Padamkan Lahan

dilansir dari Pasesatu.com, Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, membenarkan lumpuhnya armada mereka. Menurutnya, kerusakan terjadi akibat beban kerja sebelumnya.

Pos Landeng: Rusak berat setelah memadamkan kebakaran lahan di Cot Girek.

Pos Alue Bili: Rusak sedang usai menangani kebakaran di Gampong Geudumbak pada Februari lalu.

Meski pihak Pemkab berdalih sedang melakukan perbaikan, hal ini tetap menjadi tanda tanya besar bagi warga mengenai sistem pemeliharaan (maintenance) armada darurat yang seharusnya selalu dalam kondisi standby.

Terima Kasih ke Tetangga, Lupa Minta Maaf ke Warga?

Yang memicu polemik lebih jauh adalah respons resmi dari pihak pemerintah. Alih-alih menyampaikan permohonan maaf kepada korban yang rumahnya rata dengan tanah akibat keterlambatan penanganan, Pemkab Aceh Utara justru lebih fokus melontarkan apresiasi kepada pihak luar.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, kami menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota dan seluruh personel Pemadam Kebakaran Kota Lhokseumawe,” ujar Muntasir Ramli.

Sikap ini dianggap sangat disayangkan. Tidak ada kata maaf yang meluncur untuk masyarakat yang terdampak langsung oleh ketidaksiapan armada tersebut. Publik kini mempertanyakan: Di mana rasa simpati pemerintah untuk warganya sendiri?

Misteri Jumlah Armada yang Tersisa

Kondisi semakin membingungkan ketika awak media menanyakan total armada yang sebenarnya masih berfungsi. Isu yang beredar menyebutkan dari sekian banyak unit, hanya dua yang aktif, sementara sisanya rusak atau bahkan sudah dilelang.

Menanggapi hal itu, pihak Pemkab tampak belum siap memberikan data transparan.
“Nanti saya coba cek informasi lagi ya, Bang,” ujar Muntasir singkat.

Evaluasi Total atau Menunggu Korban Berikutnya?

Peristiwa di Pusong adalah “alarm” keras bagi Pemkab Aceh Utara. Kesiapsiagaan bukan sekadar soal keberanian petugas di lapangan, tapi juga tentang kelayakan mesin dan empati pemimpin saat musibah melanda.

Tanpa evaluasi serius, warga Aceh Utara hanya bisa berharap doa agar “si jago merah” tidak bertamu di saat Damkar mereka sedang masuk bengkel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *