Duka Ganda Korban Banjir Aceh Timur: Dijanjikan 3 Ons, Jatah Daging Meugang Warga Buket Bata Diduga Raib

  • Whatsapp
Duka Ganda Korban Banjir Aceh Timur: Dijanjikan 3 Ons, Jatah Daging Meugang Warga Buket Bata Diduga Raib
Foto: Ilustrasi AI

Aceh Timur – Suasana menyambut tradisi “Meugang” yang seharusnya penuh kebersamaan justru diwarnai kekecewaan oleh sejumlah korban terdampak banjir di Gampong Buket Bata, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.

Bantuan daging sapi dari Presiden Prabowo yang diperuntukkan bagi warga dinilai dibagikan secara tidak adil dan kurang transparan oleh perangkat gampong.

Kekecewaan ini mencuat pada Sabtu (21/02), setelah sejumlah warga mendapati mereka tidak menerima jatah daging yang telah dijanjikan. Padahal, warga sangat memahami bahwa kuota bantuan tersebut memang terbatas. Oleh karena itu, melalui musyawarah sebelumnya, telah disepakati bahwa daging akan dibagi sama rata agar tidak ada kecemburuan sosial.

“Ini bukan semata-mata persoalan tidak dapat jatah daging Meugang, tapi ini soal keadilan dan keterbukaan,” ujar salah seorang warga Buket Bata yang enggan disebutkan identitasnya.

Sumber tersebut menjelaskan, sesuai kesepakatan rapat, setiap rumah tangga semestinya menerima jatah daging sekitar 3 ons. “Walaupun sedikit, yang terpenting dibagi rata sesuai kesepakatan. Tapi nyatanya, banyak warga yang mengeluh tidak mendapatkan haknya,” tambahnya.

Banyaknya warga yang gigit jari ini tak pelak memicu reaksi negatif dan sorotan tajam di tengah masyarakat. Beberapa pihak bahkan mulai melontarkan dugaan adanya jatah daging korban banjir yang raib atau tidak disalurkan sebagaimana mestinya, mengingat daftar penerima seharusnya sudah pasti.

Klarifikasi Perangkat Gampong

Menanggapi polemik yang berkembang, Keuchik Buket Bata, Sulaiman, menepis tudingan bahwa pihaknya bertindak tidak adil. Saat dikonfirmasi pada Jumat (20/02), Sulaiman menegaskan bahwa penyaluran daging bantuan Presiden telah dilakukan sesuai hasil keputusan musyawarah masyarakat itu sendiri.

Menurutnya, jatah daging tersebut telah dialokasikan dan dibagikan sama rata kepada 492 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir. Jika ada warga yang merasa tidak mendapatkan bagiannya, Sulaiman menduga hal itu disebabkan karena warga yang bersangkutan tidak datang ke lokasi pembagian.

“Bila ada yang tidak mendapatkan daging, bukan berarti mereka tidak diberi jatah. Kemungkinan besar mereka tidak datang untuk mengambilnya,” jelas Sulaiman.

Lebih lanjut, ia menuturkan keterbatasan operasional yang dimiliki oleh pihak gampong menjadi kendala tersendiri dalam distribusi bantuan ini.

“Kami tidak punya biaya operasional untuk mengantarkan daging-daging itu secara langsung (dor to dor) ke rumah-rumah warga. Selain itu, kami juga tidak memiliki gudang yang memadai untuk menyimpan daging segar. Jadi, jika ada daging yang hilang atau rusak karena tidak segera diambil oleh warga, itu di luar sepengetahuan dan tanggung jawab kami,” pungkas Sulaiman.

Perbedaan pandangan ini menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat Buket Bata. Momen Meugang yang seyogianya menjadi pelipur lara di tengah duka pasca-banjir kini justru menyisakan pekerjaan rumah terkait pentingnya komunikasi dan transparansi dari tingkat gampong.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *